Selasa, 22 November 2011

Perencanaan Usaha Tani Bawang Merah di Indonesia


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.            Latar Belakang
Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan yang sejak lama telah diusahakan oleh petani secara intensif. Komoditas sayuran ini termasuk ke dalam kelompok rempah tidak bersubstitusi yang berfungsi sebagai bumbu penyedap makanan serta bahan obat tradisional. Komoditas ini juga merupakan sumber pendapatan dan kesempatan kerja yang memberikan kontribusi cukup tinggi terhadap perkembangan ekonomi wilayah. Selama periode 1989-2004, pertumbuhan produksi rata-rata bawang merah adalah sebesar 5,4% per tahun, dengan kecenderungan (trend) pola pertumbuhan yang konstan. Komponen pertumbuhan areal panen (4,3%) ternyata lebih banyak memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan produksi bawang merah dibandingkan dengan komponen produktivitas (1,1%). Konsumsi rata-rata bawang merah untuk tahun 2004 adalah 4,56 kg/kapita/tahun atau 0,38 kg/kapita/bulan (Ditjen Hortikultura, 2004). Estimasi permintaan domestik untuk tahun 2010 mencapai 976.284 ton, dimana 824.284 ton diantaranya untuk konsumsi, 97.000 ton untuk benih, 20.000 ton untuk industri, dan 35.000 ton diekspor.

Analisis data ekspor-impor 1983-2003 mengindikasikan bahwa selama periode tersebut Indonesia adalah net importer bawang merah, karena volume ekspor untuk komoditas tersebut secara konsisten selalu lebih rendah dibandingkan volume impornya. Berbagai indikator menyangkut status, potensi dan prospek pengembangan komoditas bawang merah di atas secara implisit tidak saja menunjukkan sisi positif perkembangan bawang merah, tetapi juga celah dan kesenjangan (sumber pertumbuhan produksi bawang merah yang lebih didominasi oleh pertumbuhan areal serta peningkatan impor yang semakin mengancam daya saing bawang merah domestik) yang perlu mendapat perhatian lebih serius untuk segera ditangani. Penulisan buku ini diarahkan untuk memperoleh gambaran mengenai prospek dan arah pengembangan agribisnis bawang merah dalam rangka mendukung upaya revitalisasi sektor pertanian. Bawang merah dihasilkan di 24 dari 33 propinsi di Indonesia. Propinsi penghasil utama bawang merah, yang ditandai dengan luas areal panen di atas 1.000 hektar per tahun adalah Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan. Sembilan propinsi ini menyumbang 96,5% (Jawa = 79%) dari produksi total bawang merah di Indonesia pada tahun 2004

1.2.            Rumusan Masalah
Berdasarkan latar balakang di atas, permasalahan untuk mencapai surplus bawang merah maka yang harus diperhatika adalah: prospek, strategi, kebijakan dan program yang mendukung bawamg merah, yaitu:
1.      Bagaimana prospek bawang mearah kedepannya?
2.      Bagaimana strateginya bawang merah kedepannya?
3.      Kebijakan apa yang harus dilakukan?
4.      Seperti apa rancangan program yang akan datang?

1.3.            Tujuan
1.      Mengetahui prospek bawang merah kedepannya.
2.      Mengetahui strategi bawang merah kedepannya.
3.      Memahami kebijakan yang berkaitan dengan bawang merah.
4.      Mengetahui program-program bawang merah



BAB II
PEMBAHASAN
1.1.            Pengertian Usaha Tani
Usaha tani adalah organisasi dari alam (lahan), tenaga kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian. Organisasi tersebut ketatalaksanaannya berdiri sendiri dan sengaja diusahakan oleh seseorang atau sekumpulan orang sebagai pengelolahannya. (Muhammad firdaus. 2008)

1.2.            Pengetian Agribisnis.
Menurut Arsyad, dkk (1985) Agribisnis adalah suatu kesatuan kegiatan usaha yang meliputi salh satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi, pengolahan hasil dan pemasaran yang ada hubungan dengan pertanian dalam arti luas, pertanian dalam arti luas adalah kegiatan usaha yang menunjang kegiatan pertanian dalam kegiatan usaha yang ditunjang oleh kegiatan pertanian.

1.3.            Macam-macam Agribisbis.
1.3.1.       Usaha Agribisnis Hulu
Salah satu faktor utama yang dapat menentukan keberhasilan usaha peningkatan produksi bawang merah adalah ketersediaan benih/bibit bermutu. Produsen benih bawang merah di sentra-sentra produksi biasanya adalah petani yang memiliki skala usaha relatif luas atau petani individual yang menyisihkan sebagian hasil panen untuk digunakan sebagai benih musim tanam berikutnya. Beragamnya pengetahuan serta teknologi perbenihan yang berkembang dalam system tersebut menyebabkan terjadinya variasi mutu benih yang tinggi. Secara umum, variasi mutu benih/bibit dapat mengarah pada pencapaian produktivitas yang cenderung dibawah potensi hasil. Observasi lapangan juga mengindikasikan bahwa sistem ini secara tidak langsung memungkinkan terjadinya fluktuasi harga benih yang sangat tajam. Sistem produksi benih non-formal dikenal sebagai jaringan arus benih antar lapangan dan musim. Sistem ini menghasilkan benih tidak bersertifikat. Benih yang diproduksi melalui sistem non-formal ditujukan untuk memenuhi kebutuhan petani dengan orientasi pasar tradisional yang belum menuntut persyaratan mutu. Menyadari kenyataan tersebut, alternatif pemecahan masalah benih yang dapat ditempuh adalah memperbaiki kinerja sistem perbenihan informal atau di tingkat petani

1.3.2.      Usaha Agribisnis Hilir
Khusus untuk sentra produksi Brebes, saat panen raya terjadi, pemerintah daerah akan mengalokasikan dana talangan untuk menyerap sebagian produk bawang merah yang tidak terserap pasar dan diolah menjadi bawang goreng yang mempunyai nilai jual lebih tinggi/stabil. Upaya ini ditempuh agar surplus produksi bawang merah dapat terserap, sehingga harga bawang merah menjadi relatif stabil, serta masyarakat dapat meningkatkan pendapatannya dari hasil penjualan bawang goreng. Selain itu, upaya ini dilakukan untuk menghindari kerugian finansial yang besar sebagai akibat dari rendahnya harga bawang merah, khususnya pada saat panen raya. Kelompok pengrajin bawang goreng telah terbentuk dan sudah operasional berjumlah 18 kelompok. Pemda juga telah memberikan bantuan berkenaan dengan pengadaan alat penggorengan untuk setiap kelompok.

1.4.            Prospek
Pengembangan agribisnis bawang merah pada lima tahun mendatang diarahkan untuk: (a) pengembangan varietas bawang merah setara kualitas impor sebagai salah satu upaya substitusi (pengurangan ketergantungan terhadap pasokan impor), (b) pengembangan industry benih bawang merah dalam rangka menjaga kesinambungan pasokan benih bermutu, (c) perluasan areal tanam bawang merah sebagai upaya antisipasi peningkatan konsumsi, dan (d) pengembangan diversifikasi produk bawang merah dalam upaya peningkatan nilai tambah. Berdasarkan prediksi peningkatan jumlah penduduk, konsumsi bawang merah per kapita, kebutuhan bawang merah konsumen dalam negeri, kebutuhan industri olahan dan ekspor serta dengan mempertimbangkan 10% kerusakan akibat penanganan pasca panen yang kurang optimal, maka Ditjen Bina Produksi Hortikultura (2005) telah menyusun sasaran produksi untuk tahun 2005 – 2010 secara agregat.

1.5.            Strategi
Pengembangan agribisnis bawang merah pada lima tahun mendatang diarahkan untuk: (1) mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri, (2) memenuhi kebutuhan bahan baku industri, (3) substitusi impor, dan (4) mengisi peluang pasar ekspor yang tahapan pencapaiannya dirangkum pada Roadmap Pengembangan Komoditas Bawang Merah. Strategi yang ditetapkan untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut meliputi on-farm, off-farm, kebijakan pemerintah, pemasaran dan perdagangan. Strategi pengembangan di lini on-farm mencakup: perakitan varietas unggul, penguatan sistem produksi benih sumber, pengelolaan hara dan air terpadu, pengendalian hama penyakit terpadu, serta perbaikan mutu dan daya simpan produk. Berdasarkan prioritas pengembangan yang menitikberatkan pada perbaikan varietas serta didukung oleh percepatan diseminasinya kepada pengguna, langkah-langkah strategis tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi usahatani bawang merah dan daya saing produk. Strategi pengembangan di lini off-farm diawali dengan perbaikan teknologi pengolahan untuk mendukung pengembangan industri hilir bawang merah (skala rumah tangga maupun industri), misalnya industry irisan kering, irisan basah/utuh, pickles/acar, bawang goreng, bubuk bawang merah, tepung bawang merah, oleoresin, minyak bawang merah, dan pasta. Pengembangan industri hilir diarahkan untuk meningkatkan efisiensi pengolahan bawang merah. Strategi pengembangan di lini kebijakan pemerintah mencakup: (a) dukungan kebijakan perlindungan harga produsen termasuk proteksi bea masuk atas membanjirnya bawang merah dari luar negeri, (b) pengendalian harga untuk mengurangi fluktuasi harga, (c) permodalan skim kredit lunak dan mudah bagi petani, (d) pengawasan karantina atas lalu lintas komoditas antar negara, (e) penyediaan sarana pengairan/irigasi sederhana, (f) pengembangan sarana dan prasarana pendukung operasionalisasi kelembagaan usahatani dan pemasaran, serta (g) jaminan keamanan dan insentif bagi calon investor. Berbagai dukungan kebijakan tersebut terutama diarahkan untuk menciptakan lingkungan kondusif bagi peningkatan investasi dan perbaikan distribusi.
Strategi pengembangan di lini pemasaran dan perdagangan mencakup pengembangan unit usaha bersama (koperasi atau usaha berbadan hukum lainnya) serta pengembangan sistem informasi (harga, penawaran dan permintaan produk) untuk mendukung upaya menangkap peluang pasar. Pengembangan pasar bawang merah harus dilakukan sejalan dengan perkembangan di sisi on-farm, sehingga manfaat penuh bagi produsen dan konsumen dapat tercapai. Langkah strategis pengembangan pasar yang didukung oleh kebijakan pemerintah, terutama menyangkut pemberian skim kredit usaha mikro, kecil dan menengah dapat mengarah pada peningkatan efisiensi pemasaran bawang merah. Langkah-langkah strategis di berbagai lini di atas, pada dasarnya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi produksi, pengolahan, distribusi dan pemasaran bawang merah. Hal ini perlu ditempuh dalam upaya mencapai kondisi ideal profil agribisnis bawang merah masa depan yang memiliki karakteristik: (a) sebagai produsen dan eksportir terbesar di Asia Tenggara, (b) sebagai sumber pendapatan tinggi bagi semua partisipan di sepanjang rantai pasokan, (c) tingkat produktivitas tinggi, serta (d) daya saing produk tinggi.


1.6.            Kebijakan
Kebijakan yang dibutuhkan untuk mendukung tujuan dan sasaran revitalisasi agribisnis bawang merah meliputi: (1) kebijakan pengembangan sarana dan prasarana fisik dan non-fisik, (2) kebijakan pengembangan sistem perbenihan, (3) kebijakan akselerasi peningkatan produktivitas, (4) kebijakan perluasan areal tanam, (5) kebijakan system perlindungan, (6) kebijakan pengolahan dan pemasaran hasil, dan (7) kebijakan pengembangan kelembagaan. Yang dimana pada kebijakan ini akan membantu para pelaku petani bawang merah sehingga target yang dibutuhkan dalam kualitas dalam negeri dan kualitas impor akan terpenuhi karena sudah ada saran dan prasarana.

1.7.            Program
Berdasarkan profil agribisnis bawang merah saat ini dan mengacu pada profil agribisnis bawang merah yang ingin diwujudkan pada tahun 2010, maka program revitalisasi agribisnis bawang merah dirancang mencakup beberapa kegiatan utama, yaitu:

1.      Pengembangan sarana dan prasarana agribisnis bawang merah. Sarana dan prasarana yang perlu dikembangkan mencakup: pengadaan dan perbaikan jaringan irigasi, perbaikan dan penambahan jalan desa, penyediaan sarana produksi, pembangunan gudang-gudang penyimpanan, perbaikan dan penyediaan fasilitas pasar, pembangunan jaringan informasi (periode panen, prediksi pasokan, kelas/varietas, dan harga), serta sarana diseminasi dan transfer teknologi (sumberdaya manusia dan fisik).
2.      Pengembangan industri benih bawang merah. Pembenahan sistem perbenihan bawang merah perlu dimulai dari fase perakitan varietas. Pada saat ini, rangkaian kegiatan pemuliaan dilakukan berdasarkan pendekatan program pemuliaan yang disusun oleh lembaga penyelenggara pemuliaan. Di masa depan, semua tahapan tersebut di atas dilakukan dengan pendekatan industri, yang pelaksanaannya dapat distandarisasikan mengacu pada system mutu. Mekanisme baru ini membutuhkan transformasi system perakitan varietas dari pendekatan program pemuliaan ke industry pemuliaan. Transformasi ini membawa konsekuensi perubahan penyelenggaraan kegiatan pemuliaan yang semula didominasi oleh lembaga pemerintah selanjutnya secara bertahap diserahkan kepada pihak swasta.
3.      Pemberdayaan sentra produksi bawang merah. Sentra produksi bawang merah secara bertahap direvitalisasi menjadi sentra agribisnis bawang merah yang dicirikan oleh: (a) pengusahaan bawang merah yang memiliki economies of scale melalui penerapan konsolidasi pengelolaan lahan usaha, (b) kelembagaan petani yang tangguh, tidak saja dalam menangani aspek produksi, tetapi juga aspek pemasaran hasil dan pendanaan usahatani, (c) penerapan SPO (Standar Prosedur Operasional) bawang merah spesifik lokasi yang berbasis GAP (Good Agricultural Practices), dan (d) terintegrasi dengan pelayanan pasar input serta industri pengolahan.
4.      Penambahan sentra produksi baru bawang merah. Perluasan sentra produksi/agribisnis baru terutama ditempuh dengan mengacu pada kesesuaian agroklimat bawang merah, bukan pada pemanfaatan lahan marjinal.
5.      Pembangunan pabrik pengolahan produk bawang merah. Pengolahan produk bawang merah harus dirancang tidak hanya untuk mengatasi masalah surplus produksi saja. Pengembangan pabrik pengolahan harus diarahkan sebagai upaya untuk meningkatkan nilai tambah melalui diversifikasi produk, dengan menggunakan bahan baku berkualitas prima (sesuai persyaratan olah).



BAB III
KESIMPULAN
3.1.      Kesimpulan.
            Dari pembahasan pada bab II dinyatakan bahwa sangat jelas usah tani mulai dari hilir sampai hulu harus diprhatikan untuk membantu bagaiman usah tani bawang merah selalu mencukupi kebutuhan dalam negeri ini sehingga dampaknya Negara ini tidak akan mengimpor yang secara tidak langsung akan membunuh para petani kita secara perlahan-lahan karena petani kita bersaing secara langsung dalam menentukan harga, kualitas dan pemasaran dari bawang merah tersebut. Sehingga dalam menentukan ini harus dilihat dari prospek kedepannya pertama yaitu: (a) pengembangan varietas bawang merah setara, (b) pengembangan industry benih bawang merah dalam rangka menjaga kesinambungan pasokan benih bermutu, (c)  perluasan areal tanam bawang merah sebagai upaya antisipasi peningkatan konsumsi, dan (d) pengembangan diversifikasi produk bawang merah dalam upaya peningkatan nilai tambah. Kedua dalam menentukan strateginya seperti: meliputi on-farm, off-farm, kebijakan pemerintah, pemasaran dan perdagangan. Strategi pengembangan di lini on-farm mencakup: perakitan varietas unggul, penguatan sistem produksi benih sumber, pengelolaan hara dan air terpadu, pengendalian hama penyakit terpadu, serta perbaikan mutu dan daya simpan produk. Ketiga yaitu kebijakan yang mendukung meliputi: (1) kebijakan pengembangan sarana dan prasarana fisik dan non-fisik, (2) kebijakan pengembangan sistem perbenihan, (3) kebijakan akselerasi peningkatan produktivitas, (4) kebijakan perluasan areal tanam, (5) kebijakan system perlindungan, (6) kebijakan pengolahan dan pemasaran hasil, dan (7) kebijakan pengembangan kelembagaan. Keempat program yaitu: Pengembangan sarana dan prasarana agribisnis , Pengembangan industri benih, Pemberdayaan sentra produksi, Penambahan sentra produksi baru dan Pembangunan pabrik pengolahan produk bawang merah.

3.2. Saran
Setelah dicermati oleh penulis dari usaha tani dibidang hortikultura bawang merah khususnya di indonesia agar bisa ekspor, harus melihat benar-benar meningkatkan kualitas dan kuantitas dari bawang merah tersebut, untuk mencapai produk yang bagus harus ada intervensi dari pemerintah dalam menentukan kebijakan yang mengena terhadap para pelaku bawang merah yang mana seperti prospek, strategi,dan program-programnya harus ditepati jangan hanya di dalam wacana saja, untuk para petani bawang merah harus mengikuti apa yang diprogramkan oleh pemerintah karena semua ini demi kesejahteraan khususnya bangsa indonesia, sehingga jangan terlalu yakin terhadap kepercayaan nenek moyang yang dimana sekarang sudah masuk jaman modern yang segala hal dilkukan dengan teknologi.


Daftar Pustaka

Anonymous, 1996. Strategi Sektor Perta nian dalam Era Industrialisasi, Era Perdagangan Bebas dan Men dukung GKD”. Makalah pada Seminar Nasional Strategi Sektor Pertanian dalam Memasuki Era Industrialisasi dan Era Perdagangan Bebas serta Mendukung GKD, Malang. Tidak dipublikasikan.
Anonymous, 1998. Laporan Tahunan. Cabang Dinas Pertanian Tanaman Pangan Daerah Kabupaten Kediri. Kediri.
Bachriadi, D., 1995. Ketergantungan Petani dan Penetrasi Kapital : Lima Kasus Intensifikasi Pertanian dengan Pola Contract Farming. Yayasan AKATIGA. Bandung
Firdaus, Muhammad. 2008. Manajemen Agribisnis. PT Bima Aksara: Jakarta.
Diberdayakan oleh Blogger.

KLIK LINK SPONSOR BLOG INI